Tampilkan postingan dengan label Tasbih Putih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tasbih Putih. Tampilkan semua postingan

12/03/2014

Allah SWT akan bertanya kepada setiap orang di Hari Akhir nanti, “Apa yang kamu bawa hari ini, wahai hamba-Ku?”  Apakah kamu membawa Qalb-us-Saliim, hati yang murni, hati emas yang mulia?”  Allah SWT meminta setiap orang agar mempunyai hati yang bersih.

Anda hanya bisa mendapatkannya melalui Tarekat.  Mereka yang tidak menjalani tarekat hanya memenuhi hidupnya dengan kehidupan luar, meninggalkan hatinya.  Ada kurang lebih 45 Thariqah Mu'tabarah, satu diantaranya adalah Tarekat Sadziliyah  berasal dari abul hasan Sadzili akhlul bait.

Rasulullah SAW mempunyai 124.000 sahabat.  Siapa sahabat terdekatnya sekaligus keluarga dan akhlul bait Rasullullah SAW ?  Beliau adalah Imam Ali  RA. KW  Rasulullah SAW, “Aku adalah gudang ilmu dan pintunya ali" sehingga Sayyidina Ali  KW mendapat gelar Kota Pengetahuan.

Hal ini dikenal sangat baik di antara para Syekh pemegang tarekat yang sebenarnya.  Mereka semua menghormati Tarekat Sadziliyah  sebagai yang pertama.  Syekh sejati, bukan mereka yang menyebut dirinya sendiri Syekh, seluruh Syekh yang termahsyur, seperti: Jilani QS, Rumi QS, Darqawi QS, Rifa’i QS mereka semua mengetahui posisi sebenarnya dari Tarekat Sadzilyah.  Sekarang jika seseorang berada dalam satu aliran tarekat, mereka bisa saja mengambil Tarekat Sadziliyah dan tetap bebas menjalankan amalan-amalan seperti biasanya atau menjalankan amalan Tarekat Sadziliyah.  Jika hanya melakukan amalan Tarekat Sadziliyah  saja itu sudah cukup.

Tidak menjadi masalah apabila anda berasal dari tarekat lain kemudian mengikuti Tarekat Sadziliyah.  Beberapa orang merasa takut kalau Syekhnya mendengar bahwa dia telah menganut tarekat kedua lalu dia akan marah.  Jika dia adalah Syekh sungguhan, bagaimana mungkin dia bisa marah?  Seorang Syekh sejati harus mengetahui apakah muridnya bersama dia di Hari Perjanjian (pada awal penciptaan) atau tidak.

Seorang penggembala mengetahui keadaan biri-birinya, satu dalam seribu, bahkan jika mereka semuanya berwarna putih.  Dia memiliki cahaya di matanya dan mengenal mereka tanpa membuat kesalahan.  Dalam tarekat tidak ada kepiluan bila seorang murid pergi ke Syekh yang lainnya.  Kami berterima kasih kepada Syekh pertama yang telah melatihnya sampai dia bertemu Syekh yang sesungguhnya.

Anda bisa bertemu dengan banyak Syekh dan melakukan suatu amalan, tetapi tidak akan menemukan kepuasan sampai akhirnya anda menemui Seorang Saidi Syekh, Pemimpin Para Syekh dan Wali Quthub Penghulu sekalian Wali seperti sungai yang bertemu samudra.  Begitu banyak Syekh yang hanya menjadi pelatih, menunggu sampai akhirnya Saidi Syekh memanggilmu.  Bukan melalui surat, dari hati ke hati, di sana banyak sekali jalan.  Jika seorang Syekh memberi tarekat, beliau harus memberitahu muridnya siapa Saidi Syekh di Tarekat Sadziliyah saat itu dan beliau harus mengarahkan kepadanya.

Imam Mahdi AS dan ketujuh wazir (panglima) besarnya, 40 khalifah, 99 termasuk 40 orang yang berada di sisi wazir dan 313 Mursyid besar semua berada di Tarekat Sadziliyah .  Di masa ini tidak ada kekuatan bagi tarekat lain untuk membawa seluruh orang mencapai tujuan akhirnya.

Pertanyaannya siapakah yang akan memimpin ummat ini untuk mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya dihadapan Allah SWT? Siapa yang akan menjadi Imam?  Jika 124.000 sahabat dibawa, siapa yang akan menjadi Imam?

Setelah Imam Ali  RA  KW yang kemudian menjadi Imam adalah para penerusnya yang tercantum dalam silsilah Tareqat Sadziliyzh, tentu saja pengangkatannya bukan karena garis keturunan, bukan pula atas persetujuan orang banyak akan tetapi telah di program oleh Allah SWT sejak 1400 tahun silam, “Kun Fayakun” maka tersusunlah Silsilah yang lengkap dari sejak Imam Pertama sampai akhir zaman kelak  dan syukur alhamdulillah sekarang kita telah berada dalam silsilah terakhir yang membawa kita kepada kemenangan dunia akhirat.

Disetiap zaman hanya hidup satu orang Imam yang bergelar Wali Quthub (pemimpin para wali) dan setiap manusia dimuka bumi ini harus ikut kepadanya. Setiap manusia harus datang berbai’at kepadanya walaupun harus merangkak di atas salju dan harus menyeberangi tujuh samudera. Tahukah anda apa maksud hadist Nabi “Tuntut lah Ilmu walau ke negeri china?” karena Nabi mengetahui kelak di negeri China akan lahir seorang kekasih Allah, seorang Wali Quthub.

Ada ungkapan peribahasa perumpamaan yang mengatakan;
Andai anda telah bertemu dengan Wali Quthub di zaman ini, maka anda tidak akan sibuk lagi menunggu Imam Mahdi datang atau menunggu Nabi Isa turun karena ibarat biji pepaya semuanya sudah ada di sana. Secara logika, kalau dengan Allah saja anda bisa dijumpakan oleh Beliau, apa sulitnya Beliau kenalkan anda kepada Imam Mahdi?

Imam Mahdi bukanlah seseorang yang telah gaib dan muncul kemudian di akhir zaman, bukan pula orang yang keluar dari tempat persembunyian karena selama ini takut dicari-cari musuh. Pemahaman keliru itu harus anda luruskan agar anda benar-benar bisa berjumpa dengan Imam Mahdi yang anda tunggu-tunggu sebab kalau pemikiran anda belum lurus nanti kalaupun berjumpa dengan Imam Mahdi yang sesunguhnya anda juga tidak akan terbuka hijab.

Jangan anda menunggu Imam  Mahdi di pinggir laut atau bertapa di dasar sumur karena sudah pasti anda akan disesatkan syetan yang sangat halus dan bisa menyerupai wajah apa saja. Imam Mahdi merupakan pangkat rohani yang disandang oleh orang pilihan Allah untuk meluruskan Iman manusia dan tentu saja Imam Mahdi tidak akan turun kecuali melalui Silsilah Thoreqat Sadziliyah yang merupakan Thareqat  akhlul bait.

Sungguh luar biasa rasa syukur yang tidak terhingga atas karunia Allah SWT dengan diperkenalkannya kita dengan kekasih-Nya, seorang Wali Quthub Arif Billah yang sangat dicari oleh orang diseluruh muka bumi karena lewat Beliau lah pintu langsung untuk berhubungan dengan Allah SWT. (sumber: Internet)

Mencari Wali Qutub

Allah SWT akan bertanya kepada setiap orang di Hari Akhir nanti, “Apa yang kamu bawa hari ini, wahai hamba-Ku?”  Apakah kamu membawa Qalb-us-Saliim, hati yang murni, hati emas yang mulia?”  Allah SWT meminta setiap orang agar mempunyai hati yang bersih.

Anda hanya bisa mendapatkannya melalui Tarekat.  Mereka yang tidak menjalani tarekat hanya memenuhi hidupnya dengan kehidupan luar, meninggalkan hatinya.  Ada kurang lebih 45 Thariqah Mu'tabarah, satu diantaranya adalah Tarekat Sadziliyah  berasal dari abul hasan Sadzili akhlul bait.

Rasulullah SAW mempunyai 124.000 sahabat.  Siapa sahabat terdekatnya sekaligus keluarga dan akhlul bait Rasullullah SAW ?  Beliau adalah Imam Ali  RA. KW  Rasulullah SAW, “Aku adalah gudang ilmu dan pintunya ali" sehingga Sayyidina Ali  KW mendapat gelar Kota Pengetahuan.

Hal ini dikenal sangat baik di antara para Syekh pemegang tarekat yang sebenarnya.  Mereka semua menghormati Tarekat Sadziliyah  sebagai yang pertama.  Syekh sejati, bukan mereka yang menyebut dirinya sendiri Syekh, seluruh Syekh yang termahsyur, seperti: Jilani QS, Rumi QS, Darqawi QS, Rifa’i QS mereka semua mengetahui posisi sebenarnya dari Tarekat Sadzilyah.  Sekarang jika seseorang berada dalam satu aliran tarekat, mereka bisa saja mengambil Tarekat Sadziliyah dan tetap bebas menjalankan amalan-amalan seperti biasanya atau menjalankan amalan Tarekat Sadziliyah.  Jika hanya melakukan amalan Tarekat Sadziliyah  saja itu sudah cukup.

Tidak menjadi masalah apabila anda berasal dari tarekat lain kemudian mengikuti Tarekat Sadziliyah.  Beberapa orang merasa takut kalau Syekhnya mendengar bahwa dia telah menganut tarekat kedua lalu dia akan marah.  Jika dia adalah Syekh sungguhan, bagaimana mungkin dia bisa marah?  Seorang Syekh sejati harus mengetahui apakah muridnya bersama dia di Hari Perjanjian (pada awal penciptaan) atau tidak.

Seorang penggembala mengetahui keadaan biri-birinya, satu dalam seribu, bahkan jika mereka semuanya berwarna putih.  Dia memiliki cahaya di matanya dan mengenal mereka tanpa membuat kesalahan.  Dalam tarekat tidak ada kepiluan bila seorang murid pergi ke Syekh yang lainnya.  Kami berterima kasih kepada Syekh pertama yang telah melatihnya sampai dia bertemu Syekh yang sesungguhnya.

Anda bisa bertemu dengan banyak Syekh dan melakukan suatu amalan, tetapi tidak akan menemukan kepuasan sampai akhirnya anda menemui Seorang Saidi Syekh, Pemimpin Para Syekh dan Wali Quthub Penghulu sekalian Wali seperti sungai yang bertemu samudra.  Begitu banyak Syekh yang hanya menjadi pelatih, menunggu sampai akhirnya Saidi Syekh memanggilmu.  Bukan melalui surat, dari hati ke hati, di sana banyak sekali jalan.  Jika seorang Syekh memberi tarekat, beliau harus memberitahu muridnya siapa Saidi Syekh di Tarekat Sadziliyah saat itu dan beliau harus mengarahkan kepadanya.

Imam Mahdi AS dan ketujuh wazir (panglima) besarnya, 40 khalifah, 99 termasuk 40 orang yang berada di sisi wazir dan 313 Mursyid besar semua berada di Tarekat Sadziliyah .  Di masa ini tidak ada kekuatan bagi tarekat lain untuk membawa seluruh orang mencapai tujuan akhirnya.

Pertanyaannya siapakah yang akan memimpin ummat ini untuk mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya dihadapan Allah SWT? Siapa yang akan menjadi Imam?  Jika 124.000 sahabat dibawa, siapa yang akan menjadi Imam?

Setelah Imam Ali  RA  KW yang kemudian menjadi Imam adalah para penerusnya yang tercantum dalam silsilah Tareqat Sadziliyzh, tentu saja pengangkatannya bukan karena garis keturunan, bukan pula atas persetujuan orang banyak akan tetapi telah di program oleh Allah SWT sejak 1400 tahun silam, “Kun Fayakun” maka tersusunlah Silsilah yang lengkap dari sejak Imam Pertama sampai akhir zaman kelak  dan syukur alhamdulillah sekarang kita telah berada dalam silsilah terakhir yang membawa kita kepada kemenangan dunia akhirat.

Disetiap zaman hanya hidup satu orang Imam yang bergelar Wali Quthub (pemimpin para wali) dan setiap manusia dimuka bumi ini harus ikut kepadanya. Setiap manusia harus datang berbai’at kepadanya walaupun harus merangkak di atas salju dan harus menyeberangi tujuh samudera. Tahukah anda apa maksud hadist Nabi “Tuntut lah Ilmu walau ke negeri china?” karena Nabi mengetahui kelak di negeri China akan lahir seorang kekasih Allah, seorang Wali Quthub.

Ada ungkapan peribahasa perumpamaan yang mengatakan;
Andai anda telah bertemu dengan Wali Quthub di zaman ini, maka anda tidak akan sibuk lagi menunggu Imam Mahdi datang atau menunggu Nabi Isa turun karena ibarat biji pepaya semuanya sudah ada di sana. Secara logika, kalau dengan Allah saja anda bisa dijumpakan oleh Beliau, apa sulitnya Beliau kenalkan anda kepada Imam Mahdi?

Imam Mahdi bukanlah seseorang yang telah gaib dan muncul kemudian di akhir zaman, bukan pula orang yang keluar dari tempat persembunyian karena selama ini takut dicari-cari musuh. Pemahaman keliru itu harus anda luruskan agar anda benar-benar bisa berjumpa dengan Imam Mahdi yang anda tunggu-tunggu sebab kalau pemikiran anda belum lurus nanti kalaupun berjumpa dengan Imam Mahdi yang sesunguhnya anda juga tidak akan terbuka hijab.

Jangan anda menunggu Imam  Mahdi di pinggir laut atau bertapa di dasar sumur karena sudah pasti anda akan disesatkan syetan yang sangat halus dan bisa menyerupai wajah apa saja. Imam Mahdi merupakan pangkat rohani yang disandang oleh orang pilihan Allah untuk meluruskan Iman manusia dan tentu saja Imam Mahdi tidak akan turun kecuali melalui Silsilah Thoreqat Sadziliyah yang merupakan Thareqat  akhlul bait.

Sungguh luar biasa rasa syukur yang tidak terhingga atas karunia Allah SWT dengan diperkenalkannya kita dengan kekasih-Nya, seorang Wali Quthub Arif Billah yang sangat dicari oleh orang diseluruh muka bumi karena lewat Beliau lah pintu langsung untuk berhubungan dengan Allah SWT. (sumber: Internet)

11/29/2014


 

Hizb an-Nashr Al telah terinspirasi oleh Shaykh Abu Hassan As-Shadhuli sekitar 800 tahun yang lalu. This Hizb ini disebut juga sebagai Hizb-Saif sebagai-shadhili (The ancaman shadhili). Ia ditulis pada saat Shaykh Abu Hassan telah berjuang melawan Crusaders, dipimpin oleh Raja Louis IX dari Perancis. The invading Crusaders mencuba untuk menakluk kota melalui Mansura.

Menjelang akhir hidupnya, Abul Hasan Shadhili pandangan mata mulai menjadi lemah. Maka perlahan-lahan ia kehilangan mata melihat tetapi tidak mencegah dia dari berjuang di garis depan dari peperangan al-Mansurah ketika pasukan Crusaders di bawah Raja Louis dari Perancis menyerang Misr (Mesir) pada 1250. Pada usianya sekitar 54 tahun.



Shaykh Abul Hasan dan banyak murid-muridnya (rohani murid-murid), dari teman-teman di antara 'ulama' (ulama) dan awliya (orang kudus Allah) setelah mendengar bahwa umat (masyarakat muslim) berada di bawah serangan, segera dilakukan mereka ke jalan al - Mansurah untuk berperang di garis depan atau mencari kebahagiaan surga sebagai balasan (an nasr aw al-Jannah).
 
Berikut ini menceritakan Shaykh Abul Hasan dari doa dari 
The School of Shadhdhuliyyah, Juzu' 2:


Ia Louis IX, Raja Perancis, yang memimpin banyak tentara gabungan dari Crusaders.Keinginan dari Raja adalah untuk menurunkan dan menaklukkan Islam di akhir menentukan peperangan. Gabungan dari kekuatan-kekuatan Barat telah sepenuhnya siap untuk menyerang Misr (Mesir) dalam peperangan yang sering dibandingkan dengan Battle dari parit (ghazwatul kahndaq).



Shaykh yang memiliki kedalaman tulus mimpi (ru'ya) sebelum peperangan di mana ia diberikan visi  yang sangat besar, yang luas pandangan ke langit, cahaya dari atasnya dan ia kaya dengan orang surgawi.  Ketika ditanya dalam mimpi, yang ini termasuk, ia berkata, "Untuk Nabi Allah, damai dan berkat kepadanya." Pada waktu bagian dari mimpi Nabi berbicara kepada Shaykh Abul Hasan dan dia memberi nasihat. Raja Louis hilang meskipun tenteranya kuat dan dia ditangkap dalam peperangan di sebelah dengan ramai orang. Allah memberikan kemenangan umat Islam.

Sejarah Hizib An-Nashr


 

Hizb an-Nashr Al telah terinspirasi oleh Shaykh Abu Hassan As-Shadhuli sekitar 800 tahun yang lalu. This Hizb ini disebut juga sebagai Hizb-Saif sebagai-shadhili (The ancaman shadhili). Ia ditulis pada saat Shaykh Abu Hassan telah berjuang melawan Crusaders, dipimpin oleh Raja Louis IX dari Perancis. The invading Crusaders mencuba untuk menakluk kota melalui Mansura.

Menjelang akhir hidupnya, Abul Hasan Shadhili pandangan mata mulai menjadi lemah. Maka perlahan-lahan ia kehilangan mata melihat tetapi tidak mencegah dia dari berjuang di garis depan dari peperangan al-Mansurah ketika pasukan Crusaders di bawah Raja Louis dari Perancis menyerang Misr (Mesir) pada 1250. Pada usianya sekitar 54 tahun.



Shaykh Abul Hasan dan banyak murid-muridnya (rohani murid-murid), dari teman-teman di antara 'ulama' (ulama) dan awliya (orang kudus Allah) setelah mendengar bahwa umat (masyarakat muslim) berada di bawah serangan, segera dilakukan mereka ke jalan al - Mansurah untuk berperang di garis depan atau mencari kebahagiaan surga sebagai balasan (an nasr aw al-Jannah).
 
Berikut ini menceritakan Shaykh Abul Hasan dari doa dari 
The School of Shadhdhuliyyah, Juzu' 2:


Ia Louis IX, Raja Perancis, yang memimpin banyak tentara gabungan dari Crusaders.Keinginan dari Raja adalah untuk menurunkan dan menaklukkan Islam di akhir menentukan peperangan. Gabungan dari kekuatan-kekuatan Barat telah sepenuhnya siap untuk menyerang Misr (Mesir) dalam peperangan yang sering dibandingkan dengan Battle dari parit (ghazwatul kahndaq).



Shaykh yang memiliki kedalaman tulus mimpi (ru'ya) sebelum peperangan di mana ia diberikan visi  yang sangat besar, yang luas pandangan ke langit, cahaya dari atasnya dan ia kaya dengan orang surgawi.  Ketika ditanya dalam mimpi, yang ini termasuk, ia berkata, "Untuk Nabi Allah, damai dan berkat kepadanya." Pada waktu bagian dari mimpi Nabi berbicara kepada Shaykh Abul Hasan dan dia memberi nasihat. Raja Louis hilang meskipun tenteranya kuat dan dia ditangkap dalam peperangan di sebelah dengan ramai orang. Allah memberikan kemenangan umat Islam.


Syaikh Abu Hasan asy Syadzili,Beliau terkenal sebagai seorang yang memiliki banyak rangkaian doa yang halus dan indah, disamping kekayaan berupa khazanah hizib-hizibnya. Salah satu hizib beliau yang terkenal sejak dulu hingga sekarang adalah Hizib Bahr dan Hizib Nashr. Kedua Hizib tersebut banyak diamalkan oleh kaum muslimin di seluruh dunia, terlebih ulama-ulama besar, kendati sebagian dari mereka tidak mengikuti Thoriqot asy-Syaikh.

Hizib Bahr adalah hizib yang di terima Syaikh Abu Hasan asy Syadzili langsung dari Rasulullah ﷺ berkaitan dengan lautan yang tidak ada anginnya. Sejarah diterimanya Hizib Bahri adalah sebagai berikut : Pada waktu itu asy Syaikh Abul Hasan Asy Syadzili tengah melakukan perjalan ibadah haji ke tanah suci. Perjalanan itu di antaranya harus menyeberangi Laut Merah.

Untuk menyeberangi lautan itu sedianya beliau akan menumpang perahu milik seseorang yang beragama Nasrani. Orang itu juga akan berlayar walaupun berbeda tujuan dengan asy Syaikh. Akan tetapi keadaan laut pada waktu itu sedang tidak ada angin yang cukup untuk menjalankan kapal. Keadaan seperti itu terjadi sampai berhari-hari, sehingga perjalananpun menjadi tertunda.

Sampai akhirnya pada suatu hari, asy Syaikh bertemu dengan baginda Rasulullah ﷺ. Dalam perjumpaan itu, Rasulullah ﷺ secara langsung mengajarkan Hizib Bahri secara imla’ (dikte) kepada syaikh. Dalam ilmu hadits riwayat demikian disebut riwayat Barzakhi. Riwayat seperti ini dapat diterima karena dua alasan: Pertama, tsiqohnya perawi dalam hal ini asy Syaikh dan Kedua, tidak ada jin maupun setan yang dapat menyerupai Rasulullah ﷺ.

Setelah Hizib Bahri yang baru beliau terima dari Rasulululah ﷺ itu beliau baca, kemudian beliau menyuruh si pemilik perahu itu supaya berangkat dan menjalankan perahunya. Mengetahui keadaan yang tidak memungkinkan, karena angin yang diperlukan untuk menjalankan perahu tetap tidak ada, orang itupun tidak mau menuruti perintah asy Syaikh. Namun asy Syaikh tetap menyuruh agar perahu diberangkatkan. “Ayo, berangkat dan jalankan perahumu ! sekarang angin sudah waktunya datang “, ucap asy Syaikh kepada orang itu.
Dan memang benar kenyataannya, angin secara perlahan-lahan mulai berhembus, dan perahupun akhirnya bisa berjalan. Singkat cerita alkisah kemudian si nasrani itupun lalu menyatakan masuk islam.
Berkata Syaikh Abdurrahman al Busthomi, “Hizbul Bahri ini sudah digelar di permukaan bumi. Bendera Hizbul Bahri berkibar dan tersebar di masjid-masjid. Para ulama sudah mengatakan bahwa Hizbul Bahri mengandung ismullohil a’zhom dan beberapa sirr atau rahasia yang sangat agung. Dalam kitab Kasyf al-Zhunun `an Asami al-Kutub wa al-Funun, Haji Khalifah seorang pustakawan terkenal asal Konstantinopel (Istanbul Turki) menulis berbagai jaminan yang diberikan asy Syaikh Abul Hasan Syadzili dengan Hizib Bahrinya ini.

Di antaranya, menurut Haji Khalifah, Asy Syaikh Syadzili pernah berkata: Seandainya hizibku (Hizib Bahri, Red.) ini dibaca di Baghdad, niscaya daerah itu tidak akan jatuh. Mungkin yang dimaksud Asy Syaikh Syadzili dengan kejatuhan di situ adalah kejatuhan Baghdad ke tangan Tartar, Wallahu a’lam. Bila Hizib Bahri dibaca di sebuah tempat, maka termpat itu akan terhindar dari malapetaka, ujar Syaikh Abul al-Hasan, seperti ditulis Haji Khalifah dalam Kasyf al-Zhunun.

Haji Khalifah juga mengutip komentar ulama-ulama lain tentang Hizib Bahri ini. Ada yang mengatakan, bahwa orang yang istiqamah membaca Hizib Bahar, ia tidak mati terbakar atau tenggelam. Bila Hizib Bahri ditulis di pintu gerbang atau tembok rumah, maka akan terjaga dari maksud jelek orang dan seterusnya. Konon, orang yang mengamalkan Hizib Bahri dengan kontinu, akan mendapat perlindungan dari segala bala’. Bahkan, bila ada orang yang bermaksud jahat mau menyatroni rumahnya, ia akan melihat lautan air yang sangat luas.

Si penyatron akan melakukan gerak renang layaknya orang yang akan menyelamatkan diri dari daya telan samudera. Bila di waktu malam, ia akan terus melakukan gerak renang sampai pagi tiba dan pemilik rumah menegurnya. Banyak komentar-komentar, baik dari Asy Syaikh Syadzili maupun ulama lain tentang keampuhan Hizib Bahri yang ditulis Haji Khalifah dalam Kasyf al-Zhunun jilid 1 (pada entri kata Hizb). Selain itu, Haji Khalifah juga menyatakan bahwa Hizib Bahri telah disyarahi oleh banyak ulama, diantaranya Syaikh Abu Sulayman al-Syadzili, Syaikh Zarruq, dan Ibnu Sulthan al-Harawi. Seperti yang telah disampaikan dalam manaqib Asy Syaikh Syadzili, bahwa menjelang akhir hayat beliau, asy Syaikh telah berwasiat kepada murid-murid beliau agar anak-anak mereka, maksudnya para murid Thariqah Syadziliyah, supaya mengamalkan Hizib Bahri.

Namun untuk mengamalkan Hizib ini seyogyanya harus melaluitalqin atau ijazah dari seorang guru yang memiliki wewenang untuk mengajarkannya. Seseorang yang tidak mempunyai wewenang tidak berhak mengajarkannya ataupun memberikan Hizib ini kepada orang lain. Hal ini merupakan adabiyah atau etika dilingkungan dunia thariqah.

Secara harfiah Hizib dapat diartikan sebagai golongan, atau kelompok bahkan ada yang mengartikan sebagai tentara, Kata Hizib muncul di Al-Quran sebanyak beberapa kali yaitu :

1. Surat Al Maaidah ayat 56 :
وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ
“Dan barang siapa yang menjadikan Allah, RosulNya dan orang-orang yang beriman sebagai pemimpin, maka sesungguhnya Golongan (Hizbu) Alloh-lah sebagai pemenang”.

2. Surat Al Kahfi ayat 12 :
ثُمَّ بَعَثْنَاهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَى لِمَا لَبِثُوا أَمَدًا
“Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah diantara kedua golongan (al hizbaini) itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal didalam gua itu”

3. Surat Ar Ruum ayat 32 :
مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
“dari orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan (hizbin) mereka”

4. Surat Al Fathiir ayat 6 :
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ
“Sungguh setan itu membawa permusuhan bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, sesungguhnya mereka mengajak Golongannya (hizbuhu) agar menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala”.

5. Surat Al Mujaadalah ayat 19 :
اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ
“Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Alloh ta’ala; mereka itulah golongan (Hizbu) setan. Ketahuilah bahwa golongan (hizba) setan lah yang merugi”.

6. Surat Mujadalaah ayat 22 :
لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آَبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Engkau tidak akan mendapatkan satu kaum yang beriman kepada Allah ta’ala dan kepada hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang didalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan/ ruh yang datang dari Dia. Lalu dimasukkannya mereka kedalam syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha. Merekalah golongan (hizbu) Allah. Ingatlah sesungguhnya golongan (hizba) Allah-lah yang beruntung”.

Masih segar dalam ingatan kita, ketika Nabi dan para sahabat bertempur melawan kaum musyrikin dalam perang badar, Allah sengaja mendatangkan 5000 pasukan sebagai bala bantuan yang bertandakan putih, mereka adalah para malaikat (Hizbullah), kata Hizib sendiri terkadang juga digunakan untuk menyebut “mendung yang berarak” atau “mendung yang tersisa”. Semisal hizbun min al-ghumum (sebagian atau sekelompok mendung).

Ternyata untuk selanjutnya perkembangan kata hizib dalam tradisi thariqah atau yang berkembang di pesantren adalah untuk “menandai” sebuah bacaan-bacaan tertentu. Misalnya hizib yang dibaca Hari Jum’at; yang dimaksud adalah wirid-wirid tertentu yang dibaca hari Jum’at. Untuk selanjutnya, makna hizib adalah wirid itu sendiri. Atau juga bisa bermakna munajat, ada hizib Ghazali, Hizib Bukhori, Hizib Nawawi, Hizib Bahri, Hizib Syeikh Abdul Qadir Jailani, Ratib Al-Haddad, yang masing-masing memiliki sejarah sendiri-sendiri. Hizib adalah himpunan sejumlah ayat-ayat Al-Qur’anul Karim dan untaian kalimat-kalimat zikir dan do’a yang lazim diwiridkan atau diucapkan berulang-ulang sebagai salah satu bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.
Beliau pernah dimintai penjelasan tentang siapa saja yang menjadi gurunya? Sabdanya, “Guruku adalah Syekh Abdus Salam Ibnu Masyisy, akan tetapi sekarang aku sudah menyelami dan minum sepuluh lautan ilmu. Lima dari bumi yaitu dari Rasululah ﷺ, Abu Bakar r.a, Umar bin Khattab r.a, Ustman bin ‘Affan r.a dan Ali bin Abi Thalib r.a, dan lima dari langit yaitu dari malaikat Jibril, Mika’il, Isrofil, Izro’il dan ruh yang agung.

Beliau pernah berkata, “Aku diberi tahu catatan muridku dan muridnya muridku, semua sampai hari kiamat, yang lebarnya sejauh mata memandang, semua itu mereka bebas dari neraka. Jikalau lisanku tak terkendalikan oleh syariat, aku pasti bisa memberi tahu tentang kejadian apa saja yang akan terjadi besok sampai hari kiamat”. Syekh Abu Abdillah Asy-Syathibi berkata, “Aku setiap malam banyak membaca radiya Allahu ‘an Asy-Syekh Abil Hasan dan dengan ini aku berwasilah meminta kepada Allah SWT apa yang menjadi hajatku, maka terkabulkanlah apa saja permintaanku”.

Lalu aku bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad ﷺ dan aku bertanya, “Ya Rasulallah, kalau seusai shalat lalu berwasilah membaca Radiya Allahu ‘An Asy-Syekh Abil Hasan dan aku meminta apa saja kepada Allah SWT. apa yang menjadi kebutuhanku lalu dikabulkan, seperti hal tersebut apakah diperbolehkan atau tidak?”. Lalu Nabi ﷺ. Menjawab, “Abul Hasan itu anakku lahir batin, anak itu bagian yang tak terpisahkan dari orang tuanya, maka barang siapa bertawashul kepada Abul Hasan, maka berarti dia sama saja bertawashul kepadaku”.

Pada suatu hari dalam sebuah pengajian Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a. menerangkan tentang zuhud, dan di dalam majelis terdapat seorang faqir yang berpakaian seadanya, sedang waktu itu Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili berpakaian serba bagus. Lalu dalam hati orang faqir tadi berkata, “Bagaimana mungkin Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a. berbicara tentang zuhud sedang beliau sendiri pakaiannya bagus-bagus. Yang bisa dikatakan lebih zuhud adalah aku karena pakaianku jelek-jelek”. Kemudian Syekh Abul Hasan menoleh kepada orang itu dan berkata, “Pakaianmu yang seperti itu adalah pakaian yang mengundang senang dunia karena dengan pakaian itu kamu merasa dipandang orang sebagai orang zuhud. Kalau pakaianku ini mengundang orang menamakanku orang kaya dan orang tidak menganggap aku sebagai orang zuhud, karena zuhud itu adalah makam dan kedudukan yang tinggi”. Orang fakir tadi lalu berdiri dan berkata, “Demi Allah, memang hatiku berkata aku adalah orang yang zuhud. Aku sekarang minta ampun kepada Allah dan bertaubat”.

Di antara Ungkapan Mutiara Syekh Abul Hasan Asy-Syadili:
1. Tidak ada dosa yang lebih besar dari dua perkara ini : pertama, senang dunia dan memilih dunia mengalahkan akherat. Kedua, ridha menetapi kebodohan tidak mau meningkatkan ilmunya.

2. Sebab-sebab sempit dan susah fikiran itu ada tiga :
Pertama, karena berbuat dosa dan untuk mengatasinya dengan bertaubat dan beristighfar.
Kedua, karena kehilangan dunia, maka kembalikanlah kepada Allah SWT. sadarlah bahwa itu bukan kepunyaanmu dan hanya titipan dan akan ditarik kembali oleh Allah SWT.
Ketiga, disakiti orang lain, kalau karena dianiaya oleh orang lain maka bersabarlah dan sadarlah bahwa semua itu yang membikin Allah SWT. untuk mengujimu.Kalau Allah SWT. belum memberi tahu apa sebabnya sempit atau susah, maka tenanglah mengikuti jalannya taqdir ilahi.

Memang masih berada di bawah awan yang sedang melintas berjalan (awan itu berguna dan lama-lama akan hilang dengan sendirinya). Ada satu perkara yang barang siapa bisa menjalankan akan bisa menjadi pemimpin yaitu berpaling darh dunia dan bertahan diri dari perbuatan dhalimnya ahli dunia. Setiap keramat (kemuliaan) yang tidak bersamaan dengan ridha Allah SWT. dan tidak bersamaan dengan senang kepada Allah dan senangnya Allah, maka orang tersebut terbujuk syetan dan menjadi orang yang rusak. Keramat itu tidak diberikan kepada orang yang mencarinya dan menuruti keinginan nafsunya dan tidak pula diberikan kepada orang yang badannya digunakan untuk mencari keramat. Yang diberi keramat hanya orang yang tidak merasa diri dan amalnya, akan tetapi dia selalu tersibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang disenangi Allah dan merasa mendapat anugerah (fadhal) dari Allah semata, tidak menaruh harapan dari kebiasaan diri dan amalnya.
SEJARAH HIZIB BAHR
Hizb al-bahr ini adalah hizib yang termasyhur disamping dua hizib lagi iaitu hizib an-Nawawi dan Ratib Hadad. Ketiga-tiga ini adalah milik wali-wali Qutub. Wali Qutub ialah ketua para wali atau pusat para wali di dunia ini pada zamannya. Yang mana mereka ini adalah orang yang amat bertakwa kepada Allah secara zahir dan batin. Tujuan asal amalan hizib-hizib adalah untuk membawa diri seseorang itu menjadi dekat dengan Allah S.W.T. Dalam arti kata lain, Mengharapkan redha Allah dalam mengamalkannya disamping melakukan amalan-amalan wajib seperti solat fardu, puasa, mengeluarkan zakat, jauhi maksiat dan sebagainya. Ini kerana Hizib adalah juga kategori doa atau zikir yang bertujuan memperkuat tauhid pengamal tersebut.

Terdapat banyak keistimewaan @ kelebihan @ fadhilat bagi sesiapa yang mengamalkankan hizib-hizib ini. Antaranya mendapat redha Allah, sentiasa dalam keadaan hati yang tenang, terpelihara dari hasad dengki khianat orang, terpelihara dari gangguan jin, syaitan serta iblis dan sebagainya. Apapun kelebihan-kelebihan yang ada itu adalah kurniaan Allah kepada hamba yang diredhainya, maka kita sebagai hamba Allah hendaklah mengikhlaskan niat terhadap apa jua amalan yang dilakukan. Berkenaan kelebihan-kelebihan itu kita serahkan kepada Allah dan jangan mengharapkannya. Kerana setiap musihabah yang berlaku keatas kita terkadang ada hikmah disebaliknya dan terkadang menjadi kaffarah (balasan untuk menghapus dosa) atas dosa-dosa yang pernah kita lakukan, cukuplah yang penting kita mengamalkannya hanya mencari redha Allah S.W.T. Kembali kepada Hizb al-Bahr, hizib inilah yang al-Imam selalu berwasiat kepada anak-anak muridnya supaya rajin dibaca, diamalkan dan diajarkan kepada anak-anak. Kerana di dalamnya mengandungi al-Ismul A’dzam (nama Allah yang Maha Agung). Hizb ini diajarkan oleh Rasulallah S.A.W melalui mimpi Imam Abu Hasan asy-Syazili sewaktu beliau berdukacita di tengah-tengah Laut Merah.

Diceritakan, suatu hari Al-Imam ingin pergi ke Makkah al-Mukarramah untuk menunaikan fardu haji melalui jalan laut. Kapten kapalnya itu seorang nasrani (kristian). Di tengah-tengah perjalanan tiba-tiba angin tidak lagi bertiup, ini membuatkan kapal yang al-Imam naiki tidak boleh berlayar. Bukan setakat sehari, malah berhari-hari. Semua awak-awak kapal menjadi gelisah dan berdukacita. Dalam kegelisahan inilah, Imam Abu Hasan asy-Syazili bermimpi bertemu Rasulullah S.A.W. Baginda S.A.W mengajarkan al-Imam akan hizib ini. Apabila tiba waktu siang, al-Imam menyuruh kapten kapal itu bersiap-siap untuk berlayar. Dan ini menyebabkan kapten kapal itu kehairanan, lalu bertanya. Kapten kapal : “Mana Anginnya, tuan?”. Jawab al-Imam : ” Sudah! siap-siap, sekarang angin datang!”. Dengan Izin Allah S.W.T beberapa saat kemudian angin pun datang. Oleh kerana peristiwa yang luar biasa ini, kapten kapal yang seorang nasrani itu pun memeluk Islam. Masya Allah
.
Di antara keramatnya para Shidiqin ialah :
  1. Selalu taat dan ingat pada Allah swt. secara istiqamah (kontineu).
  2. Zuhud (meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi).
  3. Bisa menjalankan perkara yang luar bisa, seperti melipat bumi, berjalan di atas air dan sebagainya.
  4. Diantara keramatnya Wali Qutub ialah :
  5. Mampu memberi bantuan berupa rahmat dan pemeliharaan yang khusus dari Allah
  6. Mampu menggantikan Wali Qutub yang lain.
  7. Mampu membantu malaikat memikul Arsy.
  8. Hatinya terbuka dari haqiqat dzatnya Allah swt. dengan disertai sifat-sifat-Nya.
Kamu jangan menunda ta’at di satu waktu, pada waktu yang lain, agar kamu tidak tersiksa dengan habisnya waktu untuk berta’at (tidak bisa menjalankan) sebagai balasan yang kamu sia-siakan. Karena setiap waktu itu ada jatah ta’at pengabdian tersendiri. Kamu jangan menyebarkan ilmu yang bertujuan agar manusia membetulkanmu dan menganggap baik kepadamu, akan tetapi sebarkanlah ilmu dengan tujuan agar Allah swt. membenarkanmu. Radiya allahu ‘anhu wa ‘aada ‘alaina min barakatihi wa anwarihi wa asrorihi wa ‘uluumihi wa ahlakihi, Allahumma Amiin.

Ini hizib (ajian) yang dikarang oleh Syekh Abul Hasan Asy Syadzili pendiri Tarekat Syadziliyah. Kegunaannya sangat banyak, di antaranya adalah disegani kawan maupun lawan, kebal senjata dan serangan gaib, menundukkan musuh bahkan mampu menewaskan musuh. Hizib ini cocok diamalkan saat keadaan genting dan kekuatan musuh tidak sebanding dengan kekuatan kita. Misalnya saat perjuangan melawan penjajah dan melawan musuh juga banyak faedah yang terkandung didalamnya..
        Dikarang di Tengah Laut MerahOrang pesantren mana yang tidak tahu Hizib Bahar. Hizib yang satu ini sangat masyhur. Ia sejajar dengan Hizib Nashr, Hizib Nawawi, Hizib Maghrabi, Suryani dan sederet nama-nama hizib `beken’ lainnya.Konon, orang yang mengamalkan Hizib Bahar dengan kontinu, akan mendapat perlindungan dari segala bala. Bahkan, bila ada orang yang bermaksud jahat mau menyatroni rumahnya, ia akan melihat lautan air yang sangat luas. Si penyatron akan melakukan gerak renang layaknya orang yang akan menyelamatkan diri dari daya telan samudera. Bila di waktu malam, ia akan terus melakukan gerak renang sampai pagi tiba dan pemilik rumahmenegurnya.

Orang-orang yang tidak percaya dengan hal-hal supranatural, mungkin tidak akan percaya dengan hal itu.Tapi, cerita mengenai keampuhan hizib yang dikarang oleh Syaikh Abu al-Hasan al-Syadzili ini betul-betul masyhur, termasuk cerita tentang lautan yang membentang di tengah-tengah orang yang bermaksud jahat.Syaikh al-Syadzili, pemilik hizib ini, terkenal sebagai pelopor tarekat al-Syadziliyah. Ia seorang sufi terkenal. Ia juga kesohor sebagai pemilik bacaan-bacaan hizib ampuh, seperti Hizib Nashr dan Hizib Bahar.Ada backgroung kisah yang amat menarik tentang asal muasal Bahar Syaikh al-Syadzili. Kisah itu ditulis oleh Haji Khalifah, pustakawan terkenal asal Konstantinopel (Istanbul Turki).

Konon, Hizib Bahar ditulis Syaikh Abu al-Hasan al-Syadzili di Laut Merah (Laut Qulzum). Di laut yang membelah Asia dan Afrika itu Syaikh al-Syadzili pernah berlayar menumpang perahu. Di tengah laut tidak angin bertiup, sehingga perahu tidak bisa berlayar selama beberapa hari. Dan, beberapa saat kemudian Syaikh al-Syadzili melihat Rasulullah. Beliau datang membawa kabar gembira (?). Lalu, menuntun Abu al-Hasan al-Syadzili melafadzkan doa-doa. Usai al-Syadzili membaca doa, angin bertiup dan kapal kembali berlayar.Doa-doa itu kemudian diabadikan oleh al-Syadzili dan diajarkan kepada murid-murid tarekatnya. Dan, kemudian diberi nama Hizb al-Bahr (doa/senjata laut).

Disebut Hizb al-Bahr karena doa-doa ini tersebut mempunyai ikatan historis yang sangat erat dengan laut. Juga, al-Syadizili membacanya dalam rangka berdoa agar selamat dalam perjalanan di Laut Merah. Jadi, Hizib Bahar betul-betul wirid yang punya kedekatan tersendiri dengan air, termasuk dalam berbagai cerita mengenai khasiat ampuhnya membuat penjahat terengah-engah di tengah samuderamahaluas.Dalam kitab Kasyf al-Zhunun `an Asami al-Kutub wa al-Funun, Haji Khalifah juga memuat berbagai jaminan yang diberikan al-Syadzili dengan Hizib Baharnya ini.

Di antaranya, menurut Haji Khalifah, al-Syadzili perbah berkata: “Seandainya hizibku (Hizib Bahar, Red.) ini dibaca di Baghdad, niscaya daerah itu tidak akan jatuh.” Mungkin yang dimaksud al-Syadzili dengan kejatuhan di situ adalah kejatuhan Baghdad ke tangan Tartar.“Bila Hizib Bahar dibaca di sebuah tempat, maka termpat itu akan terhindar dari malapetaka,” ujar Syaikh Abu al-Hasan, seperti ditulis Haji Khalifah dalam Kasyf al-Zhunun.Haji Khalifah juga mengutip komentar ulama-ulama lain tentang Hizib Bahar ini. Ada yang mengatakan, bahwa orang yang istiqamah membaca Hizib Bahar, ia tidak mati terbakar atau tenggelam.

Bila Hizib Bahar ditulis di pintu gerbang atau tembok rumah, maka akan terjaga dari maksud jelek orang dan seterusnya.Banyak komentar-komentar, baik dari Syaikh al-Syadzili maupun ulama lain tentang keampuhan Hizib Bahar yang ditulis Haji Khalifah dalam Kasyf al-Zhunun jilid 1 (pada entri kata Hizb). Selain itu, Haji Khalifah juga menyatakan bahwa Hizib Bahar telah disyarahi oleh banyak ulama, diantaranya Syaikh Abu Sulayman al-Syadzili, Syaikh Zarruq, dan Ibnu Sulthan al-Harawi.

Sejarah Hizib Al Bahr



Syaikh Abu Hasan asy Syadzili,Beliau terkenal sebagai seorang yang memiliki banyak rangkaian doa yang halus dan indah, disamping kekayaan berupa khazanah hizib-hizibnya. Salah satu hizib beliau yang terkenal sejak dulu hingga sekarang adalah Hizib Bahr dan Hizib Nashr. Kedua Hizib tersebut banyak diamalkan oleh kaum muslimin di seluruh dunia, terlebih ulama-ulama besar, kendati sebagian dari mereka tidak mengikuti Thoriqot asy-Syaikh.

Hizib Bahr adalah hizib yang di terima Syaikh Abu Hasan asy Syadzili langsung dari Rasulullah ﷺ berkaitan dengan lautan yang tidak ada anginnya. Sejarah diterimanya Hizib Bahri adalah sebagai berikut : Pada waktu itu asy Syaikh Abul Hasan Asy Syadzili tengah melakukan perjalan ibadah haji ke tanah suci. Perjalanan itu di antaranya harus menyeberangi Laut Merah.

Untuk menyeberangi lautan itu sedianya beliau akan menumpang perahu milik seseorang yang beragama Nasrani. Orang itu juga akan berlayar walaupun berbeda tujuan dengan asy Syaikh. Akan tetapi keadaan laut pada waktu itu sedang tidak ada angin yang cukup untuk menjalankan kapal. Keadaan seperti itu terjadi sampai berhari-hari, sehingga perjalananpun menjadi tertunda.

Sampai akhirnya pada suatu hari, asy Syaikh bertemu dengan baginda Rasulullah ﷺ. Dalam perjumpaan itu, Rasulullah ﷺ secara langsung mengajarkan Hizib Bahri secara imla’ (dikte) kepada syaikh. Dalam ilmu hadits riwayat demikian disebut riwayat Barzakhi. Riwayat seperti ini dapat diterima karena dua alasan: Pertama, tsiqohnya perawi dalam hal ini asy Syaikh dan Kedua, tidak ada jin maupun setan yang dapat menyerupai Rasulullah ﷺ.

Setelah Hizib Bahri yang baru beliau terima dari Rasulululah ﷺ itu beliau baca, kemudian beliau menyuruh si pemilik perahu itu supaya berangkat dan menjalankan perahunya. Mengetahui keadaan yang tidak memungkinkan, karena angin yang diperlukan untuk menjalankan perahu tetap tidak ada, orang itupun tidak mau menuruti perintah asy Syaikh. Namun asy Syaikh tetap menyuruh agar perahu diberangkatkan. “Ayo, berangkat dan jalankan perahumu ! sekarang angin sudah waktunya datang “, ucap asy Syaikh kepada orang itu.
Dan memang benar kenyataannya, angin secara perlahan-lahan mulai berhembus, dan perahupun akhirnya bisa berjalan. Singkat cerita alkisah kemudian si nasrani itupun lalu menyatakan masuk islam.
Berkata Syaikh Abdurrahman al Busthomi, “Hizbul Bahri ini sudah digelar di permukaan bumi. Bendera Hizbul Bahri berkibar dan tersebar di masjid-masjid. Para ulama sudah mengatakan bahwa Hizbul Bahri mengandung ismullohil a’zhom dan beberapa sirr atau rahasia yang sangat agung. Dalam kitab Kasyf al-Zhunun `an Asami al-Kutub wa al-Funun, Haji Khalifah seorang pustakawan terkenal asal Konstantinopel (Istanbul Turki) menulis berbagai jaminan yang diberikan asy Syaikh Abul Hasan Syadzili dengan Hizib Bahrinya ini.

Di antaranya, menurut Haji Khalifah, Asy Syaikh Syadzili pernah berkata: Seandainya hizibku (Hizib Bahri, Red.) ini dibaca di Baghdad, niscaya daerah itu tidak akan jatuh. Mungkin yang dimaksud Asy Syaikh Syadzili dengan kejatuhan di situ adalah kejatuhan Baghdad ke tangan Tartar, Wallahu a’lam. Bila Hizib Bahri dibaca di sebuah tempat, maka termpat itu akan terhindar dari malapetaka, ujar Syaikh Abul al-Hasan, seperti ditulis Haji Khalifah dalam Kasyf al-Zhunun.

Haji Khalifah juga mengutip komentar ulama-ulama lain tentang Hizib Bahri ini. Ada yang mengatakan, bahwa orang yang istiqamah membaca Hizib Bahar, ia tidak mati terbakar atau tenggelam. Bila Hizib Bahri ditulis di pintu gerbang atau tembok rumah, maka akan terjaga dari maksud jelek orang dan seterusnya. Konon, orang yang mengamalkan Hizib Bahri dengan kontinu, akan mendapat perlindungan dari segala bala’. Bahkan, bila ada orang yang bermaksud jahat mau menyatroni rumahnya, ia akan melihat lautan air yang sangat luas.

Si penyatron akan melakukan gerak renang layaknya orang yang akan menyelamatkan diri dari daya telan samudera. Bila di waktu malam, ia akan terus melakukan gerak renang sampai pagi tiba dan pemilik rumah menegurnya. Banyak komentar-komentar, baik dari Asy Syaikh Syadzili maupun ulama lain tentang keampuhan Hizib Bahri yang ditulis Haji Khalifah dalam Kasyf al-Zhunun jilid 1 (pada entri kata Hizb). Selain itu, Haji Khalifah juga menyatakan bahwa Hizib Bahri telah disyarahi oleh banyak ulama, diantaranya Syaikh Abu Sulayman al-Syadzili, Syaikh Zarruq, dan Ibnu Sulthan al-Harawi. Seperti yang telah disampaikan dalam manaqib Asy Syaikh Syadzili, bahwa menjelang akhir hayat beliau, asy Syaikh telah berwasiat kepada murid-murid beliau agar anak-anak mereka, maksudnya para murid Thariqah Syadziliyah, supaya mengamalkan Hizib Bahri.

Namun untuk mengamalkan Hizib ini seyogyanya harus melaluitalqin atau ijazah dari seorang guru yang memiliki wewenang untuk mengajarkannya. Seseorang yang tidak mempunyai wewenang tidak berhak mengajarkannya ataupun memberikan Hizib ini kepada orang lain. Hal ini merupakan adabiyah atau etika dilingkungan dunia thariqah.

Secara harfiah Hizib dapat diartikan sebagai golongan, atau kelompok bahkan ada yang mengartikan sebagai tentara, Kata Hizib muncul di Al-Quran sebanyak beberapa kali yaitu :

1. Surat Al Maaidah ayat 56 :
وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ
“Dan barang siapa yang menjadikan Allah, RosulNya dan orang-orang yang beriman sebagai pemimpin, maka sesungguhnya Golongan (Hizbu) Alloh-lah sebagai pemenang”.

2. Surat Al Kahfi ayat 12 :
ثُمَّ بَعَثْنَاهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَى لِمَا لَبِثُوا أَمَدًا
“Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah diantara kedua golongan (al hizbaini) itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal didalam gua itu”

3. Surat Ar Ruum ayat 32 :
مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
“dari orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan (hizbin) mereka”

4. Surat Al Fathiir ayat 6 :
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ
“Sungguh setan itu membawa permusuhan bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, sesungguhnya mereka mengajak Golongannya (hizbuhu) agar menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala”.

5. Surat Al Mujaadalah ayat 19 :
اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ
“Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Alloh ta’ala; mereka itulah golongan (Hizbu) setan. Ketahuilah bahwa golongan (hizba) setan lah yang merugi”.

6. Surat Mujadalaah ayat 22 :
لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آَبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Engkau tidak akan mendapatkan satu kaum yang beriman kepada Allah ta’ala dan kepada hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang didalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan/ ruh yang datang dari Dia. Lalu dimasukkannya mereka kedalam syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha. Merekalah golongan (hizbu) Allah. Ingatlah sesungguhnya golongan (hizba) Allah-lah yang beruntung”.

Masih segar dalam ingatan kita, ketika Nabi dan para sahabat bertempur melawan kaum musyrikin dalam perang badar, Allah sengaja mendatangkan 5000 pasukan sebagai bala bantuan yang bertandakan putih, mereka adalah para malaikat (Hizbullah), kata Hizib sendiri terkadang juga digunakan untuk menyebut “mendung yang berarak” atau “mendung yang tersisa”. Semisal hizbun min al-ghumum (sebagian atau sekelompok mendung).

Ternyata untuk selanjutnya perkembangan kata hizib dalam tradisi thariqah atau yang berkembang di pesantren adalah untuk “menandai” sebuah bacaan-bacaan tertentu. Misalnya hizib yang dibaca Hari Jum’at; yang dimaksud adalah wirid-wirid tertentu yang dibaca hari Jum’at. Untuk selanjutnya, makna hizib adalah wirid itu sendiri. Atau juga bisa bermakna munajat, ada hizib Ghazali, Hizib Bukhori, Hizib Nawawi, Hizib Bahri, Hizib Syeikh Abdul Qadir Jailani, Ratib Al-Haddad, yang masing-masing memiliki sejarah sendiri-sendiri. Hizib adalah himpunan sejumlah ayat-ayat Al-Qur’anul Karim dan untaian kalimat-kalimat zikir dan do’a yang lazim diwiridkan atau diucapkan berulang-ulang sebagai salah satu bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.
Beliau pernah dimintai penjelasan tentang siapa saja yang menjadi gurunya? Sabdanya, “Guruku adalah Syekh Abdus Salam Ibnu Masyisy, akan tetapi sekarang aku sudah menyelami dan minum sepuluh lautan ilmu. Lima dari bumi yaitu dari Rasululah ﷺ, Abu Bakar r.a, Umar bin Khattab r.a, Ustman bin ‘Affan r.a dan Ali bin Abi Thalib r.a, dan lima dari langit yaitu dari malaikat Jibril, Mika’il, Isrofil, Izro’il dan ruh yang agung.

Beliau pernah berkata, “Aku diberi tahu catatan muridku dan muridnya muridku, semua sampai hari kiamat, yang lebarnya sejauh mata memandang, semua itu mereka bebas dari neraka. Jikalau lisanku tak terkendalikan oleh syariat, aku pasti bisa memberi tahu tentang kejadian apa saja yang akan terjadi besok sampai hari kiamat”. Syekh Abu Abdillah Asy-Syathibi berkata, “Aku setiap malam banyak membaca radiya Allahu ‘an Asy-Syekh Abil Hasan dan dengan ini aku berwasilah meminta kepada Allah SWT apa yang menjadi hajatku, maka terkabulkanlah apa saja permintaanku”.

Lalu aku bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad ﷺ dan aku bertanya, “Ya Rasulallah, kalau seusai shalat lalu berwasilah membaca Radiya Allahu ‘An Asy-Syekh Abil Hasan dan aku meminta apa saja kepada Allah SWT. apa yang menjadi kebutuhanku lalu dikabulkan, seperti hal tersebut apakah diperbolehkan atau tidak?”. Lalu Nabi ﷺ. Menjawab, “Abul Hasan itu anakku lahir batin, anak itu bagian yang tak terpisahkan dari orang tuanya, maka barang siapa bertawashul kepada Abul Hasan, maka berarti dia sama saja bertawashul kepadaku”.

Pada suatu hari dalam sebuah pengajian Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a. menerangkan tentang zuhud, dan di dalam majelis terdapat seorang faqir yang berpakaian seadanya, sedang waktu itu Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili berpakaian serba bagus. Lalu dalam hati orang faqir tadi berkata, “Bagaimana mungkin Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a. berbicara tentang zuhud sedang beliau sendiri pakaiannya bagus-bagus. Yang bisa dikatakan lebih zuhud adalah aku karena pakaianku jelek-jelek”. Kemudian Syekh Abul Hasan menoleh kepada orang itu dan berkata, “Pakaianmu yang seperti itu adalah pakaian yang mengundang senang dunia karena dengan pakaian itu kamu merasa dipandang orang sebagai orang zuhud. Kalau pakaianku ini mengundang orang menamakanku orang kaya dan orang tidak menganggap aku sebagai orang zuhud, karena zuhud itu adalah makam dan kedudukan yang tinggi”. Orang fakir tadi lalu berdiri dan berkata, “Demi Allah, memang hatiku berkata aku adalah orang yang zuhud. Aku sekarang minta ampun kepada Allah dan bertaubat”.

Di antara Ungkapan Mutiara Syekh Abul Hasan Asy-Syadili:
1. Tidak ada dosa yang lebih besar dari dua perkara ini : pertama, senang dunia dan memilih dunia mengalahkan akherat. Kedua, ridha menetapi kebodohan tidak mau meningkatkan ilmunya.

2. Sebab-sebab sempit dan susah fikiran itu ada tiga :
Pertama, karena berbuat dosa dan untuk mengatasinya dengan bertaubat dan beristighfar.
Kedua, karena kehilangan dunia, maka kembalikanlah kepada Allah SWT. sadarlah bahwa itu bukan kepunyaanmu dan hanya titipan dan akan ditarik kembali oleh Allah SWT.
Ketiga, disakiti orang lain, kalau karena dianiaya oleh orang lain maka bersabarlah dan sadarlah bahwa semua itu yang membikin Allah SWT. untuk mengujimu.Kalau Allah SWT. belum memberi tahu apa sebabnya sempit atau susah, maka tenanglah mengikuti jalannya taqdir ilahi.

Memang masih berada di bawah awan yang sedang melintas berjalan (awan itu berguna dan lama-lama akan hilang dengan sendirinya). Ada satu perkara yang barang siapa bisa menjalankan akan bisa menjadi pemimpin yaitu berpaling darh dunia dan bertahan diri dari perbuatan dhalimnya ahli dunia. Setiap keramat (kemuliaan) yang tidak bersamaan dengan ridha Allah SWT. dan tidak bersamaan dengan senang kepada Allah dan senangnya Allah, maka orang tersebut terbujuk syetan dan menjadi orang yang rusak. Keramat itu tidak diberikan kepada orang yang mencarinya dan menuruti keinginan nafsunya dan tidak pula diberikan kepada orang yang badannya digunakan untuk mencari keramat. Yang diberi keramat hanya orang yang tidak merasa diri dan amalnya, akan tetapi dia selalu tersibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang disenangi Allah dan merasa mendapat anugerah (fadhal) dari Allah semata, tidak menaruh harapan dari kebiasaan diri dan amalnya.
SEJARAH HIZIB BAHR
Hizb al-bahr ini adalah hizib yang termasyhur disamping dua hizib lagi iaitu hizib an-Nawawi dan Ratib Hadad. Ketiga-tiga ini adalah milik wali-wali Qutub. Wali Qutub ialah ketua para wali atau pusat para wali di dunia ini pada zamannya. Yang mana mereka ini adalah orang yang amat bertakwa kepada Allah secara zahir dan batin. Tujuan asal amalan hizib-hizib adalah untuk membawa diri seseorang itu menjadi dekat dengan Allah S.W.T. Dalam arti kata lain, Mengharapkan redha Allah dalam mengamalkannya disamping melakukan amalan-amalan wajib seperti solat fardu, puasa, mengeluarkan zakat, jauhi maksiat dan sebagainya. Ini kerana Hizib adalah juga kategori doa atau zikir yang bertujuan memperkuat tauhid pengamal tersebut.

Terdapat banyak keistimewaan @ kelebihan @ fadhilat bagi sesiapa yang mengamalkankan hizib-hizib ini. Antaranya mendapat redha Allah, sentiasa dalam keadaan hati yang tenang, terpelihara dari hasad dengki khianat orang, terpelihara dari gangguan jin, syaitan serta iblis dan sebagainya. Apapun kelebihan-kelebihan yang ada itu adalah kurniaan Allah kepada hamba yang diredhainya, maka kita sebagai hamba Allah hendaklah mengikhlaskan niat terhadap apa jua amalan yang dilakukan. Berkenaan kelebihan-kelebihan itu kita serahkan kepada Allah dan jangan mengharapkannya. Kerana setiap musihabah yang berlaku keatas kita terkadang ada hikmah disebaliknya dan terkadang menjadi kaffarah (balasan untuk menghapus dosa) atas dosa-dosa yang pernah kita lakukan, cukuplah yang penting kita mengamalkannya hanya mencari redha Allah S.W.T. Kembali kepada Hizb al-Bahr, hizib inilah yang al-Imam selalu berwasiat kepada anak-anak muridnya supaya rajin dibaca, diamalkan dan diajarkan kepada anak-anak. Kerana di dalamnya mengandungi al-Ismul A’dzam (nama Allah yang Maha Agung). Hizb ini diajarkan oleh Rasulallah S.A.W melalui mimpi Imam Abu Hasan asy-Syazili sewaktu beliau berdukacita di tengah-tengah Laut Merah.

Diceritakan, suatu hari Al-Imam ingin pergi ke Makkah al-Mukarramah untuk menunaikan fardu haji melalui jalan laut. Kapten kapalnya itu seorang nasrani (kristian). Di tengah-tengah perjalanan tiba-tiba angin tidak lagi bertiup, ini membuatkan kapal yang al-Imam naiki tidak boleh berlayar. Bukan setakat sehari, malah berhari-hari. Semua awak-awak kapal menjadi gelisah dan berdukacita. Dalam kegelisahan inilah, Imam Abu Hasan asy-Syazili bermimpi bertemu Rasulullah S.A.W. Baginda S.A.W mengajarkan al-Imam akan hizib ini. Apabila tiba waktu siang, al-Imam menyuruh kapten kapal itu bersiap-siap untuk berlayar. Dan ini menyebabkan kapten kapal itu kehairanan, lalu bertanya. Kapten kapal : “Mana Anginnya, tuan?”. Jawab al-Imam : ” Sudah! siap-siap, sekarang angin datang!”. Dengan Izin Allah S.W.T beberapa saat kemudian angin pun datang. Oleh kerana peristiwa yang luar biasa ini, kapten kapal yang seorang nasrani itu pun memeluk Islam. Masya Allah
.
Di antara keramatnya para Shidiqin ialah :
  1. Selalu taat dan ingat pada Allah swt. secara istiqamah (kontineu).
  2. Zuhud (meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi).
  3. Bisa menjalankan perkara yang luar bisa, seperti melipat bumi, berjalan di atas air dan sebagainya.
  4. Diantara keramatnya Wali Qutub ialah :
  5. Mampu memberi bantuan berupa rahmat dan pemeliharaan yang khusus dari Allah
  6. Mampu menggantikan Wali Qutub yang lain.
  7. Mampu membantu malaikat memikul Arsy.
  8. Hatinya terbuka dari haqiqat dzatnya Allah swt. dengan disertai sifat-sifat-Nya.
Kamu jangan menunda ta’at di satu waktu, pada waktu yang lain, agar kamu tidak tersiksa dengan habisnya waktu untuk berta’at (tidak bisa menjalankan) sebagai balasan yang kamu sia-siakan. Karena setiap waktu itu ada jatah ta’at pengabdian tersendiri. Kamu jangan menyebarkan ilmu yang bertujuan agar manusia membetulkanmu dan menganggap baik kepadamu, akan tetapi sebarkanlah ilmu dengan tujuan agar Allah swt. membenarkanmu. Radiya allahu ‘anhu wa ‘aada ‘alaina min barakatihi wa anwarihi wa asrorihi wa ‘uluumihi wa ahlakihi, Allahumma Amiin.

Ini hizib (ajian) yang dikarang oleh Syekh Abul Hasan Asy Syadzili pendiri Tarekat Syadziliyah. Kegunaannya sangat banyak, di antaranya adalah disegani kawan maupun lawan, kebal senjata dan serangan gaib, menundukkan musuh bahkan mampu menewaskan musuh. Hizib ini cocok diamalkan saat keadaan genting dan kekuatan musuh tidak sebanding dengan kekuatan kita. Misalnya saat perjuangan melawan penjajah dan melawan musuh juga banyak faedah yang terkandung didalamnya..
        Dikarang di Tengah Laut MerahOrang pesantren mana yang tidak tahu Hizib Bahar. Hizib yang satu ini sangat masyhur. Ia sejajar dengan Hizib Nashr, Hizib Nawawi, Hizib Maghrabi, Suryani dan sederet nama-nama hizib `beken’ lainnya.Konon, orang yang mengamalkan Hizib Bahar dengan kontinu, akan mendapat perlindungan dari segala bala. Bahkan, bila ada orang yang bermaksud jahat mau menyatroni rumahnya, ia akan melihat lautan air yang sangat luas. Si penyatron akan melakukan gerak renang layaknya orang yang akan menyelamatkan diri dari daya telan samudera. Bila di waktu malam, ia akan terus melakukan gerak renang sampai pagi tiba dan pemilik rumahmenegurnya.

Orang-orang yang tidak percaya dengan hal-hal supranatural, mungkin tidak akan percaya dengan hal itu.Tapi, cerita mengenai keampuhan hizib yang dikarang oleh Syaikh Abu al-Hasan al-Syadzili ini betul-betul masyhur, termasuk cerita tentang lautan yang membentang di tengah-tengah orang yang bermaksud jahat.Syaikh al-Syadzili, pemilik hizib ini, terkenal sebagai pelopor tarekat al-Syadziliyah. Ia seorang sufi terkenal. Ia juga kesohor sebagai pemilik bacaan-bacaan hizib ampuh, seperti Hizib Nashr dan Hizib Bahar.Ada backgroung kisah yang amat menarik tentang asal muasal Bahar Syaikh al-Syadzili. Kisah itu ditulis oleh Haji Khalifah, pustakawan terkenal asal Konstantinopel (Istanbul Turki).

Konon, Hizib Bahar ditulis Syaikh Abu al-Hasan al-Syadzili di Laut Merah (Laut Qulzum). Di laut yang membelah Asia dan Afrika itu Syaikh al-Syadzili pernah berlayar menumpang perahu. Di tengah laut tidak angin bertiup, sehingga perahu tidak bisa berlayar selama beberapa hari. Dan, beberapa saat kemudian Syaikh al-Syadzili melihat Rasulullah. Beliau datang membawa kabar gembira (?). Lalu, menuntun Abu al-Hasan al-Syadzili melafadzkan doa-doa. Usai al-Syadzili membaca doa, angin bertiup dan kapal kembali berlayar.Doa-doa itu kemudian diabadikan oleh al-Syadzili dan diajarkan kepada murid-murid tarekatnya. Dan, kemudian diberi nama Hizb al-Bahr (doa/senjata laut).

Disebut Hizb al-Bahr karena doa-doa ini tersebut mempunyai ikatan historis yang sangat erat dengan laut. Juga, al-Syadizili membacanya dalam rangka berdoa agar selamat dalam perjalanan di Laut Merah. Jadi, Hizib Bahar betul-betul wirid yang punya kedekatan tersendiri dengan air, termasuk dalam berbagai cerita mengenai khasiat ampuhnya membuat penjahat terengah-engah di tengah samuderamahaluas.Dalam kitab Kasyf al-Zhunun `an Asami al-Kutub wa al-Funun, Haji Khalifah juga memuat berbagai jaminan yang diberikan al-Syadzili dengan Hizib Baharnya ini.

Di antaranya, menurut Haji Khalifah, al-Syadzili perbah berkata: “Seandainya hizibku (Hizib Bahar, Red.) ini dibaca di Baghdad, niscaya daerah itu tidak akan jatuh.” Mungkin yang dimaksud al-Syadzili dengan kejatuhan di situ adalah kejatuhan Baghdad ke tangan Tartar.“Bila Hizib Bahar dibaca di sebuah tempat, maka termpat itu akan terhindar dari malapetaka,” ujar Syaikh Abu al-Hasan, seperti ditulis Haji Khalifah dalam Kasyf al-Zhunun.Haji Khalifah juga mengutip komentar ulama-ulama lain tentang Hizib Bahar ini. Ada yang mengatakan, bahwa orang yang istiqamah membaca Hizib Bahar, ia tidak mati terbakar atau tenggelam.

Bila Hizib Bahar ditulis di pintu gerbang atau tembok rumah, maka akan terjaga dari maksud jelek orang dan seterusnya.Banyak komentar-komentar, baik dari Syaikh al-Syadzili maupun ulama lain tentang keampuhan Hizib Bahar yang ditulis Haji Khalifah dalam Kasyf al-Zhunun jilid 1 (pada entri kata Hizb). Selain itu, Haji Khalifah juga menyatakan bahwa Hizib Bahar telah disyarahi oleh banyak ulama, diantaranya Syaikh Abu Sulayman al-Syadzili, Syaikh Zarruq, dan Ibnu Sulthan al-Harawi.